Jumat, 18 Juni 2010

Koleksi Terbaru DeKayla

Kerudung Lengan Shafiyaa
IDR 99,000
Warna :
Hitam
Abu-abu
Cokelat tua
Cokelat muda

Tersedia juga Gamis/Abaya Shafiyaa
IDR 179,000











Kerudung Lengan Zahraa
IDR 99,000
Warna yang tersedia
Hijau
Biru tua (torqoise)
Ungu
Merah
Pink
Cokelat
Abu-abu
Hitam
Putih

Harga tertera di atas belum termasuk ongkos kirim
Lihat Koleksi Lengkap Busana Muslim dekayla di http://butikdekayla.blogspot.com

Rabu, 28 April 2010

Anakku Permataku

Memiliki anak rasanya bukan sekedar hamil, melahirkan, dan kemudian memandikan, memberi makan, membelikan pakaian dan mainan, lalu ya sudah yang lain-lain serahkan pada orang tua atau asisten.
Pastinya senang sekali begitu tahu dari hasil testpack dan meyakinkan diri ke dokter kandungan bahwa di dalam tubuh kita ada seorang atau bahkan lebih yang bergantung pada kita. Mulailah pada saat itu hunting ribuan pengetahuan tentang kehamilan dari mulai perkembangan janin dalam kandungan, makanan apa yang harus dimakan orang hamil, pantangan orang hamil, pakaian hamil, pokoknya apa saja, segala sesuatu yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan di explore, di baca, dan yang paling sulit dilaksanakan (mudah mudahan yang terakhir itu benar-benar dilakukan, karena banyak orang yang hobinya membaca tapi pengetahuannya dibiarkan saja mengendap di kepala)
Mulai mendekati melahirkan bimbang, normal atau caesar? Ini yang harus benar-benar di timbang. Sebenarnya proses persalinan merupakan proses yang benar-benar alami walaupun memang proses itu memang pertarungan antara hidup dan mati baik bagi ibu maupun bayi. Jika melahirkan secara normal, memang pada saat akan lahir rasanya pastilah sangat sakit tapi jika tidak ada komplikasi yakinlah bahwa semua akan-baik-baik saja. Karena pada dasarnya proses apapun yang berjalan normal merupakan hal yang paling baik. Tetapi hati-hati, jika paramedis sudah memberikan peringatan bahwa karena hal tertentu bayi harus dikeluarkan dengan cara operasi caesar, bukanlah hal yang buruk. Karena pasti paramedis memiliki pandangan tertentu mengenai kondisi ibu hamil dan bayi yang ada dalam kandungannya. Bahkan bagi ibu yang memang dipastikan tidak tahan merasakan sakitnya proses persalinan normal memang lebih baik jika persalinannya dilakukan dengan cara operasi caesar, karena akan sangat membahayakan jika ditengah-tengah persalinan sang ibu kehilangan tenaganya karena tidak kuat menahan sakit. Kalau ada segelintir orang yang bilang zaman dahulu nggak ada orang melahirkan pakai operasi caesar. Perlu di ingat, zaman dahulu belum ada teknologi yang memungkinkan kita dapat melihat kondisi kehamilan seperti sekarang ini . Sebelum ada teknologi yang menunjang kehamilan dan persalinan, angka kematian ibu dan bayi pada saat persalinan sangat tinggi, karena kemungkinan komplikasi saat persalinan tidak dapat diketahui, ataupun diketahui akan tetapi apa boleh buat mau tidak mau harus bersalin normal.
Setelah persalinan, hati-hati jangan terjebak pada perasaan diri sendiri karena Depresi Pasca Melahirkan bisa terjadi pada siapa saja, usahakan fokus pada pemulihan diri dan mengurusi sang buah hati yang pastinya kehadirannya membuat diri kita lebih merasa berharga. Daripada meratapi diri karena belumbisa menyusui, belum bisa memandikan, belum bisa mendiamkan tangisan sang bayi jika menangis, lebih baik cari informasi tentang cara merawat bayi baru. Banyak keluhan, seperti baru tidur sebentar si bayi sudah menangis, baru mau makan si bayi BAK atau BAB, baru masak sang bayi menangis, dikeluhkan oleh sang ibu. Mestinya hal itu tidak menjadi beban, nikmati saja karena semua itu akan segera berlalu dan ketika anak beranjak dewasa kita pasti akan merindukan segala macam kerepotan yang ditimbulkan saat mempunyai bayi.
Ketika usia bayi menjelang 6 bulan mulailah kita kerepotan mencari aneka macam makanan bayi, baik yang instan maupun buatan sendiri. Usahakan menu buatan sendiri menjadi favorit anak-anak dan jangan lupa menunya harus berganti-ganti biar bayi nggak bosan (kita saja kalau setiap hari menunya yang itu-itu saja pasti bosan, bayi juga manusia yang bisa merasa bosan). Mainan? Sekarang banyak sekali mainan dijual yang bertajuk mainan edukatif, apa benar edukatif? Tidak, jika setelah membelikan mainan, tidak ada yang mengajak bayi bermain. Ayah sibuk dengan urusan pekerjaan kantornya sementara sang ibu sibuk dengan sosialisasi di Internet. Jadi mainan hanya diberikan pada sang bayi lalu, setelah bayi bosan dibiarkan teronggok begitu saja untuk kemudian sang bayi dibelikan mainan baru. Dan jawabannya ya merupakan mainan edukatif jika setelah membeli orang tua mengajaknya bermain bersama-sama dan jika bosan mainan di simpan baik-baik untuk kemudian digunakan bermain lagi pada saat yang lain. Karena pada dasarnya bayi sangat mudah merasa bosan dan tambahan lagi stimulasi kecerdasan bayi harus dilakukan secara berulang-ulang. Jadi intinya mainan edukatif adalah mainan yang bisa dimainkan bersama-sama dengan orang tua dan orang yang ada disekitarnya. Jangan salah, jemari tangan juga bisa dijadikan mainan edukatif, jika setiap hari sejak anak lahir kita membilang jemari tangan kita di hadapannya, sang bayi pada saat bisa bicara dia langsung bisa menghitung jemarinya dari satu sampai lima. Kardus bekas makananatau susu bayi, sendok dan piring plastik yang tidak berbahaya pun bisa menjadi sarana bermain edukatif favorit bagi sang bayi jika orang tua bisa mengajak sang bayi bermain bersama-sama.
to be continue...........................

Sabtu, 17 April 2010

Busana Muslim Cantik

Sabtu, 17 April 2010

Alhamdulillah, ternyata silaturahmi membawa berkah ya. Hari ini ke tempat seorang sahabat lama yang kebetulan produsen busana muslim, Desainnya ok banget ternyata, simpel, chic,up to date dan yang pasti harganya nggak mahal pokoknya pas di kantong.Ini salah satu favorit saya






Mau lihat yang lebih lengkap ?
kunjungi di http://butikdekayla.blogspot.com

Senin, 14 Desember 2009

Abi Ke Ancol Lagi..




Hari Sabtu pagi, tanggal 5 Desember 2009, kami mengajak Abimanyu ke Ancol. Kami tiba di sana sekitar pukul 08.00 WIB. Kami memilih ke sana di pagi hari dengan pertimbangan udara masih segar, dan biasanya suasana masih belum terlampau ramai sehingga kami bisa bebas memilih tempat untuk menikmati pantai dan sinar mataharinya. Tapi tidak seperti biasanya, Ancol pada pagi itu sudah penuh dengan pengunjung. Untunglah, kami masih mendapat tempat di Beachpool, sehingga kami bisa menikmati sentuhan ombak di pantai.

Pagi itu sangatlah menyenangkan untuk kami. Banyak hal yang kami lakukan bersama di sana. Abimanyu langsung sibuk dengan peralatan membuat istana pasirnya. Sesekali ia melangkah ke bibir pantai untuk merasakan sedikit sentuhan air laut di kakinya.

Namun ada hal yang agak mengecewakan hati ini. Kami melihat sudah banyak tempat sampah disediakan di sepanjang pantai, namun masih juga tampak sampah yang mengotori pantai tersebut, terutama plastik yang mengambang di air lautnya. Beachpool yang seharusnya menjadi tempat kami berenang dengan nyaman, sedikit terganggu dengan kehadiran sampah-sampah tersebut. Semoga para pembuang sampah sembarangan itu menyadari bahwa perbuatan mereka dapat mengganggu dan merusak lingkungan di sekitar mereka. Go green..!

Namun ada juga hal cukup menggembirakan kami. Saat Abimanyu sibuk membuat istana pasir, kami melihat riak-riak air yang menurut kami bukan berasal dari deburan ombak. Ketika kami perhatikan dengan lebih seksama, ternyata riak itu disebabkan gerakan beberapa ekor ikan. Karena penasaran, suamiku membuka bajunya dan nyemplung ke dalam air. Ia bergerak menuju salah satu lokasi air yang beriak itu. Sesampainya di sana, dengan wajah gembira, ia berteriak bahwa ia melihat beberapa ekor ikan yang berenang bergerombol. Ia juga mengatakan, bahwa tidak cuma satu kelompok yang ada, tetapi beberapa. Selanjutnya, ia menggendong Abimanyu (karena Abimanyu tidak mau badannya basah…) masuk ke dalam air untuk melihat ikan-ikan itu. Kami tak tahu, ikan jenis apakah itu. Sekilas seperti ikan barracuda, tetapi ukurannya hanya sedikit lebih besar dari ikan mujair dewasa. Apa pun jenis ikan itu, yang pasti, ikan-ikan itu telah menunjukkan bahwa kualitas air di pantai itu agak membaik, meskipun masih harus ditingkatkan, antara lain dengan terus menjaga kebersihan di sana. Semoga pantai di Jakarta bisa segera dibersihkan total dari pencemaran, sehingga pemandangan ikan yang berenang hilir mudik bisa kami temui di setiap titik pantai yang kami kunjungi, amin…

Rabu, 26 Agustus 2009

Ajari Anak Berpuasa Tanpa Memaksa

Seputar Indonesia.com, Minggu 23 AAgustus 2009

Pada bulan Ramadan ini,ada baiknya Anda mulai mengajari si kecil untuk berpuasa.Sejak kapan si kecil seharusnya mulai belajar puasa dan bagaimana cara mengajarinya? Andhika Romadhona,7 tahun, terlihat cemas sambil memegangi perutnya saat hari pertama puasa.

Anak lelaki yang akrab disapa Dika ini mengaku lapar bukan kepalang saat itu.Padahal waktu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi. Dika sudah mengeluh kepada bundanya. Tak tega melihat buah hatinya, sang bunda pun memperbolehkan Dika untuk buka, tetapi Dika menolak dengan alasan malu dengan temannya.

”Nanti kalau aku ketahuan Farhan gimana? Aku kan malu kalau ketahuan buka, pasti diledekin teman- teman,” tutur bocah kelas 2 SD ini. Sang bunda, Tuti Aliyah, mengatakan justru sangat senang sang anak sudah mau menjalankan puasa sejak dini.Tetapi jika sudah sakit dan ternyata dipaksakannya, itulah yang membuatnya khawatir.

Berbeda halnya dengan Taufilutfi, atau yang akrab disapa Luttfi, 6 tahun.Ia dengan percaya diri mengatakan jika sudah lapar, tanpa ragu ia pun makan dan minum,kemudian melanjutkan puasanya. ”Ya wajarlah mah, namanya juga lagi latihan, nanti juga kalau aku sudah besar,aku bakal puasa seharian penuh kok,”jelasnya saat ditanya sang mama mengapa Lutfi melakukan puasa yang seperti itu.

Memang bagi si kecil mengajari puasa bukan hal yang gampang.Tapi tentu saja Anda tak boleh menyerah. Melatih anak puasa sebenarnya bisa dilakukan sejak usia balita. Memang sebagai langkah awal,si kecil tak harus puasa sehari penuh.Anak bisa memulai puasa dengan puasa tengah hari.Anak juga harus diberi pemahaman soal puasa itu sendiri.

Selain menambah pendidikannya mengenai agama, anak juga diajarkan untuk hidup sehat. Mendidik anak untuk mendapatkan pengajaran tentang agama memang wajib dilakukan. Di saat anak belum mendapatkan pendidikan sebelum memasuki masa sekolahnya. Nah di sinilah pentingnya peranan orangtua menanamkan kehidupan sosial, moral, termasuk penanaman nilai-nilai tentang agama.

Lantas bagaimana menanamkan nilai agama termasuk puasa pada si kecil? Psikolog Keluarga dari Kasandra & Associates,Kasandra Putranto M.Psi mengatakan bahwa menanamkan norma agama pada anak memang sebaiknya dilakukan sejak dini dan sebaiknya dilakukan dengan cara-cara menyenangkan tanpa ada paksaan.

”Untuk mengenalkan ajaran agama memang sebaiknya dilakukan dengan cara menyenangkan. Sama halnya pada saat mengajarkan puasa,” tuturnya saat dihubungi SI. Kasandra menuturkan, mengajarkan puasa pada anak dilakukan dengan cara perlahan.Dimulai dari mengenalkan bahwa puasa itu adalah hukumnya wajib bagi yang sudah akil balig.

Mengenalkan anak tentang puasa dan melatih anak untuk betul- betul mulai berpuasa itu memang beda.Sebelum anak mengerti betul tentang puasa, semisal pada umur balita sampai usia 7 tahun, bila Ramadan akan segera tiba, orangtua bisa mengenalkan serta melibatkan anak pada kegiatankegiatan pada bulan Ramadan.

Meski belum ikut berpuasa, tapi libatkan si kecil untuk ikut buka puasa bersama, tadarusan atau mengaji, salat tarawih juga sahur. Selain itu, bisa juga dilakukan dengan mendengarkan lagu-lagu tentang puasa, cerita Ramadan atau pengalaman masa kecil orangtua saat berpuasa.Dengan cara tersebut secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar puasa.

”Biarkan anak puasa sekuatnya, jangan dipaksakan. Atau orangtua bisa memberikan anjuran untuk melakukan puasa dengan bertahap,”ucap psikolog yang juga aktif mengajar di Universitas London School of Public Relations ini. Bertahap bisa dilakukan dengan puasa pada minggu pertama selama 4-5 jam.

Bila sudah kuat, tambah jam puasa menjadi 6 jam pada minggu ke-2.Kemudian menambahnya lagi menjadi 9 jam untuk minggu-minggu berikutnya. Atau melatih puasa pada anak bisa juga dilakukan dengan melihat dari umur anak. Semisal anak masih balita, jika anak memaksa untuk ikut puasa,3 jam pun cukup.

”Jika anak tetap dipaksakan, maka dikhawatirkan, yang ada anak menjadi tidak mau berpuasa,” tutur psikolog dari 2 anak ini. Disarankan bagi anak yang ingin berpuasa, saat sahur untuk meminum segelas teh manis dan jangan biarkan si kecil berpuasa tanpa sahur.

Dan agar kondisi tubuh anak tetap prima, sebaiknya pada malam hari anak tidur lebih awal. Didiklah anak melakukan puasa dengan rasa kasih sayang. Mendidik anak untuk berpuasa juga membantu anak mencapai kedewasaan, baik dari segi akal,ruhiyah dan fisik.

Dimulai dari kenal dan mengetahui sesuatu, kemudian anak mau dan bisa hingga akhirnya menjadi biasa memang tidak membutuhkan waktu yang sebentar.Selain waktu, juga harus diperhatikan dari kemauannya yang kuat,juga kesabaran, serta semakin awal mengajarkannya, maka semakin baik.

”Jangan pernah memaksa anak untuk melakukan kegiatan apa pun karena anak pun tidak akan melakukannya dengan sungguhsungguh. Biarkan mereka melakukan sesuai kemampuannya. Karena semakin anak besar,maka semakin tumbuh juga rasa tanggung jawab anak,” pesan psikolog yang berpraktik di kawasan Pela,Jakarta Selatan ini. (inggrid namirazswara)

Program School Meal untuk Anak Bangsa

Seputar Indonesia.com, Minggu 23 Agustus 2009

Menangani masalah gizi buruk bisa dilakukan dengan beragam cara. Misalnya edukasi mengenai gizi, juga pemenuhan gizi.

Dikatakan oleh pakar gizi klinik yang juga anggota dari PDGKI (Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia),Dr.Fiastuti Witjaksono MS, Sp.GK, bahwa untuk berprestasi di sekolah anak membutuhkan gizi seimbang. Gizi seimbang terdiri dari asupan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral yang berpengaruh terhadap pembentukan otak untuk dapat tumbuh kembang optimal dan menentukan tingkat kecerdasan.

“Usia sekolah adalah masa emas untuk menentukan kondisi anak kelak ketika dewasa,” papar Fiastuti pada acara bertajuk “Bekal Sehat Blue Band Bagi Anak Bangsa” yang diadakan oleh Blue Band dan World Food Programme (WFP) beberapa waktu lalu.Pemenuhan gizi seimbang,juga menjadi langkah untuk mengantisipasi terjadinya penambahan masalah gizi buruk di Indonesia.

Menurut data dari Departemen Kesehatan RI,pada 2009 Indonesia telah berhasil mengurangi tingkat malanutrisi nasional selama beberapa tahun terakhir dari 25% menjadi 18%.Tapi secara signifikan hal tersebut masih tetap lebih tinggi dari standar ideal World Bank yaitu di bawah 10%.

Kekurangan gizi masih menjadi isu nasional dan hingga saat ini masih banyak anak Indonesia yang menderita hal tersebut. Masalah ini serius mengingat jumlah anak yang kekurangan gizi pada suatu negara,secara tidak langsung juga akan memengaruhi perkembangan dan kemajuan bangsa tersebut di masa depan.

Masih merujuk pada data dari Departemen Kesehatan RI pada Desember 2008, 44% dari seluruh anak di bawah usia 5 tahun di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami malanutrisi kronis. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 47% anak mengalami malanutrisi kronis, yang di mana masih diklasifikasikan oleh WHO (World Health Organization) sebagai kondisi yang serius.

Berangkat dari kepedulian Blue Band dalam mengatasi masalah malanutrisi pada anak-anak sekolah dasar di Indonesia dan dengan keberhasilan WFP dalam Program School Meal,Blue Band telah memberikan bantuan donasi senilai 1 miliar rupiah selama tiga tahun berturut-turut sejak tahun 2007 hingga tahun 2009 ini. Bantuan ini difokuskan untuk disalurkan ke daerah NTT dan NTB.

Melalui Program School Meal, anak-anak diberikan biskuit yang telah difortifikasi untuk memenuhi kekurangan mikronutrien,serta meningkatkan kemampuan konsentrasi dan belajar. WFP juga mendukung pendidikan nutrisi dan kebersihan di dalam kelas.

Brand Manager Blue Band Agus Nugraha menyebutkan, Blue Band menyadari bahwa anak pada usia sekolah dasar membutuhkan asupan gizi seimbang karena memerlukan fungsi kerja otak maksimal untuk menyerap mata pelajaran dasar di sekolah, dan merupakan masa pertumbuhan fisik maksimal.

“Berdasarkan survei oleh WFP, Program School Meal yang telah dilakukan oleh WFP dan Blue Band di wilayah NTT dan NTB telah membuahkan hasil yang positif dalam hal kehadiran anak dan tingkat konsentrasi di sekolah,”ucapnya. Donor & Private Sector Relations Officer WFP Indonesia,Alan Brown, mengatakan bahwa harga makanan yang tinggi dan krisis finansial dipercaya oleh WFP sebagai penyebab sulitnya mendapatkan pangan yang mencukupi di daerah pedalaman seperti NTT dan NTB.

Oleh sebab itu, pada 2009 dan 2010 WFP akan memfokuskan perhatian dan bantuan pada kedua daerah ini di mana pangan dan malanutrisi masih menjadi masalah yang serius.Tujuan perkembangan milenium WFP juga sejalan dengan objektif pemerintah Indonesia yang telah menetapkan target untuk mengurangi tingkat malanutrisi, serta tingkat kematian ibu dan anak pada tahun 2010.

“Bantuan pihak swasta seperti Blue Band sangat kami hargai demi mencapai tujuan ini,” tandasnya. Fiastuti menambahkan, jika ingin anak tetap fit di sekolah, maka jangan pernah meninggalkan sarapan. Sebagai pengganti sarapan yang tertinggal atau menambah menu sarapannya,biskuit dari bantuan Program School Meal sangat berguna sekali untuk pemenuhan gizi seimbang mereka agar tetap fit dalam beraktivitas.(inggrid)

Jumat, 21 Agustus 2009

KPI Umumkan 5 Sinetron Bermasalah

Harian Kompas, Jum’at 21 Agustus 2009

Jakarta, Kompas Komisi Penyiaran Indonesia Pusat menemukan lima sinetron bermasalah yang ditayangkan sepanjang Juni 2009. KPI memberikan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggarannya terhadap Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran.
”Rapat Pleno KPI Pusat tanggal 28 Juli, setelah mendapat masukan dan pertimbangan dari tim panelis yang beranggotakan Arief Rachman, Dedy Nur Hidayat, Seto Mulyadi, Nina Armando, Bobby Guntarto, dan Razaini Taher, menyatakan, dari 28 program yang terdiri dari 666 episode yang diteliti, ditemukan lima sinetron yang bermasalah,” kata Koordinator Bidang Isi Siaran KPI Pusat Yazirwan Uyun, Kamis (20/8) di Jakarta.
Sinetron-sinetron bermasalah tersebut adalah 1001 Cerita yang ditayangkan TPI, Sakina, Kasih dan Asmara, Mualaf, serta ”FTV Drama” yang ditayangkan Indosiar.
Yazirwan Uyun menjelaskan, sinetron bermasalah tersebut umumnya menampilkan kekerasan fisik dan verbal, seperti menampar, memukul, menjambak, menendang, memaku, serta kata-kata kasar dan makian.
Menurut Yazirwan Uyun, masyarakat diharapkan bisa mengawasi dan berperan aktif memantau semua tayangan dan memberikan laporan kepada KPI melalui pesan pendek (SMS) ke nomor 081213070000 atau faksimile dan telepon ke nomor (021) 6340667 atau 6340713.
(NAL)

Jangan Lupa Waktu yaa...

Jadwal Shalat Jakarta dan Sekitarnya

Blogging gak bisa menghasilkan uang? Siapa bilang? Coba klik deh...