Selamat Datang!! Di Blog ini anda akan mendapatkan berbagai informasi dan tips yang bermanfaat untuk anda Jika anda konsumen Tupperware Dapatkan !!!!! Produk Tupperware Gratis sesuai keinginan anda dengan belanja 1 party minimal Rp.750.000,- (Starchart) atau KitBag gratis sekaligus Member Gratis Bergabung menjadi DEALER Dapatkan discount produk Tupperware 30 %
Rabu, 05 Agustus 2009
Ajak Mengawali Hari dengan Sarapan
Seputar Indonesia, Selasa 4 Agustus 2009
SARAPAN merupakan kegiatan penting yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang ingin melakukan aktivitas. Apalagi bagi mereka yang melakukan aktivitas seharian penuh.
Untuk itu, Nestle Koko Krunch, salah satu sereal favorit saat sarapan, mengajak keluarga Indonesia untuk mengawali hari dengan sarapan dalam acara Smart Start. Sarapan dalam bahasa Inggris adalah breakfast yang berarti menghentikan puasa,yaitu kita telah berpuasa pada malam hari selama 8–10 jam.
Dari sarapan ini, berarti mengisi kembali cadangan energi yang digunakan selama puasa semalaman. Banyak jenis makanan yang bisa dikonsumsi pada saat sarapan, salah satunya adalah sereal. Nutrition Advisor Nestle Indonesia dr Ririen Mahadi mengungkapkan bahwa sarapan pagi yang sehat dengan sereal gandum utuh dengan susu akan membantu anak mendapatkan protein, karbohidrat-kompleks, serat serta asupan berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk mendukung prestasi anak sekolah.
Keberadaan karbohidrat kompleks dalam gandum utuh yang antara lain terdapat dalam Koko Krunch Breakfast Cereal akan menghasilkan glukosa sebagai bahan energi tubuh yang juga dibutuhkan untuk proses berpikir dan belajar guna mendukung kemampuan konsentrasi dan daya ingat. Dikatakan oleh Ririen,sarapan Sereal Nestle seperti Koko Krunch dengan gandum utuh memiliki kandungan karbohidrat kompleks yang tinggi.
Selain itu, jenis sarapan ini juga kaya sumber serat yang baik, diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral dan berkadar lemak maupun gula lebih rendah dibandingkan jenis sarapan lainnya. ”Kadar gula satu mangkuk Koko Krunch dengan susu setara kandungan gula dari satu buah apel sedang,”tuturnya.
Acara ini bertujuan mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk mengawali hari dengan sarapan sehat bergizi.Acara yang melibatkan 2.000 ibu dan anak secara serempak mengonsumsi sarapan sehat Nestle Koko Krunch yang mengandung gandum utuh ini berhasil membuat catatan baru rekor Museum Rekor Indonesia sebagai ”Sarapan Sereal Ibu dan Anak Terbanyak” yang berlangsung di Dunia Fantasi Ancol pada Minggu, 2 Agustus 2009.
”Kami memiliki komitmen untuk menjalankan misi Nestle di Indonesia yaitu membantu mewujudkan masyarakat lebih sehat.Dengan program Nestle Koko Krunch Smart Start akan lebih banyak para ibu Indonesia mendapat informasi lengkap dan bermanfaat tentang pentingnya memenuhi kebutuhan gizi dan energi anak usia sekolah dengan menyediakan sarapan sehat sereal gandum utuh,” ucap Country Business Manager, Nestle Breakfast Cereal Jose Oscar,Yu. Jose juga mengatakan, bahwa acara yang dilaksanakan sejak pukul 8 pagi ini sengaja dilaksanakan berdekatan dengan awal tahun ajaran baru sekolah, guna mengingatkan para Ibu akan pentingnya sarapan sehat untuk membantu meningkatkan prestasi sekolah anaknya.
Gerakan sarapan sehat ibu dan anak terbanyak ini akan tercatat dalam rekor MURI.”Memang baru pertama kali dilaksanakan suatu gerakan hidup sehat bagi keluarga dengan fokus pada kualitas sarapan pagi sereal gandum utuh dengan jumlah peserta ibu dan anak sebanyak ini.
Oleh sebab itu, berhasil masuk MURI sebagai Sarapan Sereal Ibu dan Anak Terbanyak, ujar Senior Manager Museum Rekor Indonesia, Paulus Pangka. Brand-ambassador Nestle Breakfast Cereal Alya Rohali menuturkan bahwa sebagai ibu, dirinya sering kali lupa bahwa menyajikan sarapan saja untuk anak dan keluarga belumlah cukup. Perlu dipastikan bahwa sarapan yang kita siapkan mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan anak sepanjang pagi hingga siang hari, khususnya pada saat sekolah sehingga anak pun diharapkan dapat berprestasi di sekolah.
”Kepedulian dan kebersamaan para ibu pada acara ini dapat menjadi inspirasi positif bagi para ibu lain untuk memperhatikan pentingnya menyajikan sarapan sehat bagi anak-anak dan keluarga,” ujarnya. Artis sekaligus pemerhati anak Indonesia Dik Doank yang juga hadir di acara yang sama sebagai pembawa acara Smart Start,menuturkan bahwa kegiatan ini juga membantu meningkatkan kualitas sarapan anak dan seluruh keluarga dan menunjukkan bahwa sarapan adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan dan penting untuk hubungan harmonis keluarga.(inggrid namirazswara)
Rumah Lebih Baik bagi Anak
Seputar Indonesia, Selasa 4 Agustus 2009
ORANGTUA adalah ”pengasuh” terbaik bagi anak. Buktinya, anakanak yang dititipkan di tempat penitipan anak dan diasuh orangtua asuh atau pembantu, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengalami masalah kesehatan mental dibanding anak-anak yang diasuh sendiri oleh orangtuanya.
Kesimpulan tersebut setidaknya didasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Singapura. Dalam studi yang melibatkan 2.000 anak berusia 6–12 tahun tersebut, menunjukkan adanya hubungan langsung antara ketidakhadiran orangtua dengan emosional dan perilaku menyimpang pada anak seperti depresi, kegelisahan, agresif, dan perilaku suka mengganggu.
Dr Bernardine Woo dan peneliti di Institut Kesehatan Mental Singapura dan Universitas Nasional Singapura mengatakan, anakanak yang tinggal dengan orangtua tunggal (ibunya) karena bercerai, menjanda,atau ditinggal mati suaminya, kemungkinan tiga kali lebih besar mengalami masalah kesehatan mental dibanding anak lainnya. Mengenai alasannya,Woo dan timnya mengaku tidak mempelajari alasan terbentuknya korelasi dari kedua hal tersebut.
“Sejumlah postulat mengemukakan alasannya terletak pada kurangnya dukungan dari orangtua dan kualitas perhatian yang mungkin berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain,yang selanjutnya akan memengaruhi anak-anak secara psikologis,”kata Woo. Di Asia, adalah hal yang biasa bila orangtua yang sibuk bekerja meninggalkan anak mereka dalam asuhan pembantu,teman,kerabat, atau pusat penitipan anak.
Studi juga menemukan bahwa secara umum, kemungkinan anak laki-laki untuk mengalami masalah perilaku dan emosional dua kali lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Selain itu, anak laki-laki dengan IQ (intelligence quotient) rendah berisiko tiga kali lebih tinggi mengalami masalah yang sama dibanding mereka yang memiliki IQ lebih tinggi.(inda s)
ORANGTUA adalah ”pengasuh” terbaik bagi anak. Buktinya, anakanak yang dititipkan di tempat penitipan anak dan diasuh orangtua asuh atau pembantu, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengalami masalah kesehatan mental dibanding anak-anak yang diasuh sendiri oleh orangtuanya.
Kesimpulan tersebut setidaknya didasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Singapura. Dalam studi yang melibatkan 2.000 anak berusia 6–12 tahun tersebut, menunjukkan adanya hubungan langsung antara ketidakhadiran orangtua dengan emosional dan perilaku menyimpang pada anak seperti depresi, kegelisahan, agresif, dan perilaku suka mengganggu.
Dr Bernardine Woo dan peneliti di Institut Kesehatan Mental Singapura dan Universitas Nasional Singapura mengatakan, anakanak yang tinggal dengan orangtua tunggal (ibunya) karena bercerai, menjanda,atau ditinggal mati suaminya, kemungkinan tiga kali lebih besar mengalami masalah kesehatan mental dibanding anak lainnya. Mengenai alasannya,Woo dan timnya mengaku tidak mempelajari alasan terbentuknya korelasi dari kedua hal tersebut.
“Sejumlah postulat mengemukakan alasannya terletak pada kurangnya dukungan dari orangtua dan kualitas perhatian yang mungkin berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain,yang selanjutnya akan memengaruhi anak-anak secara psikologis,”kata Woo. Di Asia, adalah hal yang biasa bila orangtua yang sibuk bekerja meninggalkan anak mereka dalam asuhan pembantu,teman,kerabat, atau pusat penitipan anak.
Studi juga menemukan bahwa secara umum, kemungkinan anak laki-laki untuk mengalami masalah perilaku dan emosional dua kali lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Selain itu, anak laki-laki dengan IQ (intelligence quotient) rendah berisiko tiga kali lebih tinggi mengalami masalah yang sama dibanding mereka yang memiliki IQ lebih tinggi.(inda s)
Gangguan Perkembangan si Kecil
Seputar Indonesia, Selasa, 4 Agustus 2009
BALITA normal biasanya sudah mulai berceloteh sejak usia enam bulan.Tapi kalau sampai usia setahun si bayi masih diam saja,ibu pun jadi bertanyatanya: apakah anak saya punya kebutuhan khusus? Hal tersebut tentunya menjadi kecemasan setiap orangtua.
Pasalnya, jika ternyata si buah hati tergolong anak-anak dengan kebutuhan khusus (ABK) atau special needs,dibutuhkan treatment (penanganan) khusus untuk mengobati “kekhususannya” tersebut. Treatment ini berbeda-beda untuk masing-masing anak, tergantung apa yang dibutuhkannya. Kepala Sekolah Kriansa Special Education di Kemang Jakarta Selatan, Puti Herryanti, mengungkapkan, anak-anak dengan kebutuhan khusus biasanya memerlukan terapi yang sangat banyak.Misalnya fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara.
”Terapi tidak bisa dipisahkan dari pendidikan anakanak special needs ini. Perpaduan antara edukasi dan terapi diharapkan dapat memberi manfaat lebih bagi anak-anak seperti mereka,” ujar alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. Memiliki anak berkebutuhan khusus bukan berarti akhir dari segalanya.
Orangtua tak perlu berputus asa, karena melalui penanganan secara dini dan intensif, akan diperoleh kemajuan dalam perkembangan anak-anak sesuai dengan potensi yang dimiliki masing- masing anak. Pemilik pusat terapi dan home school “Kubis” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Dani Yusuf, mengungkapkan, orangtua harus mendukung anak dan berkomitmen untuk menjadikannya lebih baik.
“Bila anak dicintai, perkembangannya akan lebih cepat,” katanya. Selain kasih sayang dan perhatian, anak dengan gangguan perkembangan juga harus dihargai karyanya. Jangan sekali-kali menyalahkan anak atas kreasi yang berbeda.Biarkan dia sukses dalam bidang yang disukainya. Dengan kata lain,optimalkan kemampuannya dan minimalisasi kekurangannya. Di sisi lain, anak dengan kebutuhan khusus perlu dihargai keberadaannya sebagai bagian dari lingkungan.
Mungkin tampak aneh ketika melihat seorang anak autis yang berdiam diri sambil jongkok di bawah meja. Jangan ditertawakan apalagi dimarahi, karena secara mental terkadang mereka lebih sensitif. Akibatnya, anak jadi drop dan mulai menangis. Sebaliknya, cobalah dekati dengan kelembutan dan kasih sayang.Kehadiran orang terdekat seperti ibu atau suster pengasuh mungkin bisa membuatnya lebih tenang, terutama bila si anak sedang ketakutan akan sesuatu. Sebagai orang tua,Anda harus bisa membuat tenang.
Buatlah suasana yang kondusif supaya si kecil tak tertekan.Karena dalam keadaan tertekan anak akan semakin sulit berkonsentrasi. Marah juga akan membuat kondisi buah hati Anda semakin buruk. Memang butuh kesabaran untuk mendidik anak tersebut. Bila perlu rajin-rajinlah riset untuk mendapatkan pengetahuan soal terapi anak berkebutuhan khusus.
Terkait gangguan perkembangan, Dani menekankan pentingnya kepekaan orangtua dalam mendeteksi kemungkinan kelainan atau gangguan dalam perkembangan anaknya.“Makin dini diketahui, makin cepat pula perbaikannya. Setelah 7–8 bulan terapi, perbaikan umumnya sudah mencapai delapan puluh persen,” ujarnya.
Adapun perbaikan yang tampak misalkan perilaku yang lebih sopan (kenal dengan aturan normatif), memberi tahu suster ketika ingin minum (bukannya marahmarah sambil melempar gelas), meletakkan barang sesuai tempatnya, serta perilaku yang lebih baik di sekolah. “Rata-rata untuk anak usia 5–6 tahun, setelah setahun diterapi sudah dapat dirujuk ke sekolah umum,”katanya.(inda susanti)
BALITA normal biasanya sudah mulai berceloteh sejak usia enam bulan.Tapi kalau sampai usia setahun si bayi masih diam saja,ibu pun jadi bertanyatanya: apakah anak saya punya kebutuhan khusus? Hal tersebut tentunya menjadi kecemasan setiap orangtua.
Pasalnya, jika ternyata si buah hati tergolong anak-anak dengan kebutuhan khusus (ABK) atau special needs,dibutuhkan treatment (penanganan) khusus untuk mengobati “kekhususannya” tersebut. Treatment ini berbeda-beda untuk masing-masing anak, tergantung apa yang dibutuhkannya. Kepala Sekolah Kriansa Special Education di Kemang Jakarta Selatan, Puti Herryanti, mengungkapkan, anak-anak dengan kebutuhan khusus biasanya memerlukan terapi yang sangat banyak.Misalnya fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara.
”Terapi tidak bisa dipisahkan dari pendidikan anakanak special needs ini. Perpaduan antara edukasi dan terapi diharapkan dapat memberi manfaat lebih bagi anak-anak seperti mereka,” ujar alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. Memiliki anak berkebutuhan khusus bukan berarti akhir dari segalanya.
Orangtua tak perlu berputus asa, karena melalui penanganan secara dini dan intensif, akan diperoleh kemajuan dalam perkembangan anak-anak sesuai dengan potensi yang dimiliki masing- masing anak. Pemilik pusat terapi dan home school “Kubis” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Dani Yusuf, mengungkapkan, orangtua harus mendukung anak dan berkomitmen untuk menjadikannya lebih baik.
“Bila anak dicintai, perkembangannya akan lebih cepat,” katanya. Selain kasih sayang dan perhatian, anak dengan gangguan perkembangan juga harus dihargai karyanya. Jangan sekali-kali menyalahkan anak atas kreasi yang berbeda.Biarkan dia sukses dalam bidang yang disukainya. Dengan kata lain,optimalkan kemampuannya dan minimalisasi kekurangannya. Di sisi lain, anak dengan kebutuhan khusus perlu dihargai keberadaannya sebagai bagian dari lingkungan.
Mungkin tampak aneh ketika melihat seorang anak autis yang berdiam diri sambil jongkok di bawah meja. Jangan ditertawakan apalagi dimarahi, karena secara mental terkadang mereka lebih sensitif. Akibatnya, anak jadi drop dan mulai menangis. Sebaliknya, cobalah dekati dengan kelembutan dan kasih sayang.Kehadiran orang terdekat seperti ibu atau suster pengasuh mungkin bisa membuatnya lebih tenang, terutama bila si anak sedang ketakutan akan sesuatu. Sebagai orang tua,Anda harus bisa membuat tenang.
Buatlah suasana yang kondusif supaya si kecil tak tertekan.Karena dalam keadaan tertekan anak akan semakin sulit berkonsentrasi. Marah juga akan membuat kondisi buah hati Anda semakin buruk. Memang butuh kesabaran untuk mendidik anak tersebut. Bila perlu rajin-rajinlah riset untuk mendapatkan pengetahuan soal terapi anak berkebutuhan khusus.
Terkait gangguan perkembangan, Dani menekankan pentingnya kepekaan orangtua dalam mendeteksi kemungkinan kelainan atau gangguan dalam perkembangan anaknya.“Makin dini diketahui, makin cepat pula perbaikannya. Setelah 7–8 bulan terapi, perbaikan umumnya sudah mencapai delapan puluh persen,” ujarnya.
Adapun perbaikan yang tampak misalkan perilaku yang lebih sopan (kenal dengan aturan normatif), memberi tahu suster ketika ingin minum (bukannya marahmarah sambil melempar gelas), meletakkan barang sesuai tempatnya, serta perilaku yang lebih baik di sekolah. “Rata-rata untuk anak usia 5–6 tahun, setelah setahun diterapi sudah dapat dirujuk ke sekolah umum,”katanya.(inda susanti)
Senin, 03 Agustus 2009
Hilangnya Lahan Bermain Anak
Seputar Indonesia
Sunday, 02 August 2009
PADA masa kanak-kanak, kemampuan berpikir perlu dirangsang dan diasah agar dapat berkembang dengan pesat. Padahal, untuk bisa berkembang membutuhkan medium dari luar.
Lingkungan sangat berperan dalam merangsang perkembangan berpikir anak, antara lain melalui kegiatan bermain. Di awal kehidupannya, anak usia sekitar 18 bulan mulai berkembang kemampuan berpikirnya.Setelah memasuki usia sekolah,kemampuan berpikir anak akan semakin berkembang dan akan terus berlangsung hingga mereka dewasa. Dewasa ini dengan semakin ketatnya persaingan, banyak orangtua yang mendorong anaknya untuk mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan, seperti les atau kursus.
Dari pagi hingga sore hari, anak-anak banyak beraktivitas di sekolah dan dilanjutkan dengan belajar dan mengikuti kursus agar anak menjadi pintar. Dengan jam belajar dan aktivitas yang padat tersebut, tanpa orangtua sadari, anakanak berada dalam rutinitas yang belum tentu mereka senangi. Hal ini mengakibatkan anak-anak kehilangan masa kecilnya yang menyenangkan. Padahal sebenarnya anakanak berhak untuk mendapatkan masa kecil yang fun dan membuatnya bahagia.
Sementara itu, anak yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain di dalam rumah dikhawatirkan akan terhambat proses tumbuh kembang dan kemampuan berpikirnya. Padahal, anak usia sekolah perlu memiliki kegiatan di luar ruangan yang melibatkan aktivitas fisik, pengalaman langsung dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.
Permainan berpetualang mengajak anak untuk merasakan pengalaman berpetualang yang menyenangkan agar anak dapat melatih kemampuannya dalam mengatur strategi, lebih kreatif, sportif dan dapat lebih konsentrasi dalam suatu hal. Di sisi lain, pemukiman yang padat membuat lahan bermain anak semakin sempit atau bahkan hilang.Zaman dulu mungkin kita masih bisa bermain di halaman rumah, tapi sekarang ini halaman sudah ”habis”oleh jalan,gedung dan mal.Akibatnya anak-anak bisa bermain di tempat membahayakan yang sebenarnya bukan untuk bermain.
Psikolog Mayke Tedjasaputra mengemukakan, hal yang penting adalah bagaimana agar anak tidak berkeliaran dan bermain di jalan sehingga membuat tindak kriminal karena tidak ada hal lain yang dilakukannya. ”Zaman dulu orang bisa bermain bola atau benteng di samping rumah, tapi sekarang apalagi kalau bicara dalam konteks Jakarta sampai ke pinggiran kota pun sudah padat penduduknya.
Sehingga anak hanya berkeluyuran di jalan, iseng satu sama lain dan kemudian muncul ide untuk melakukan tindak kriminal. Itu yang mengkhawatirkan,” tuturnya. (inda)
Sunday, 02 August 2009
PADA masa kanak-kanak, kemampuan berpikir perlu dirangsang dan diasah agar dapat berkembang dengan pesat. Padahal, untuk bisa berkembang membutuhkan medium dari luar.
Lingkungan sangat berperan dalam merangsang perkembangan berpikir anak, antara lain melalui kegiatan bermain. Di awal kehidupannya, anak usia sekitar 18 bulan mulai berkembang kemampuan berpikirnya.Setelah memasuki usia sekolah,kemampuan berpikir anak akan semakin berkembang dan akan terus berlangsung hingga mereka dewasa. Dewasa ini dengan semakin ketatnya persaingan, banyak orangtua yang mendorong anaknya untuk mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan, seperti les atau kursus.
Dari pagi hingga sore hari, anak-anak banyak beraktivitas di sekolah dan dilanjutkan dengan belajar dan mengikuti kursus agar anak menjadi pintar. Dengan jam belajar dan aktivitas yang padat tersebut, tanpa orangtua sadari, anakanak berada dalam rutinitas yang belum tentu mereka senangi. Hal ini mengakibatkan anak-anak kehilangan masa kecilnya yang menyenangkan. Padahal sebenarnya anakanak berhak untuk mendapatkan masa kecil yang fun dan membuatnya bahagia.
Sementara itu, anak yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain di dalam rumah dikhawatirkan akan terhambat proses tumbuh kembang dan kemampuan berpikirnya. Padahal, anak usia sekolah perlu memiliki kegiatan di luar ruangan yang melibatkan aktivitas fisik, pengalaman langsung dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.
Permainan berpetualang mengajak anak untuk merasakan pengalaman berpetualang yang menyenangkan agar anak dapat melatih kemampuannya dalam mengatur strategi, lebih kreatif, sportif dan dapat lebih konsentrasi dalam suatu hal. Di sisi lain, pemukiman yang padat membuat lahan bermain anak semakin sempit atau bahkan hilang.Zaman dulu mungkin kita masih bisa bermain di halaman rumah, tapi sekarang ini halaman sudah ”habis”oleh jalan,gedung dan mal.Akibatnya anak-anak bisa bermain di tempat membahayakan yang sebenarnya bukan untuk bermain.
Psikolog Mayke Tedjasaputra mengemukakan, hal yang penting adalah bagaimana agar anak tidak berkeliaran dan bermain di jalan sehingga membuat tindak kriminal karena tidak ada hal lain yang dilakukannya. ”Zaman dulu orang bisa bermain bola atau benteng di samping rumah, tapi sekarang apalagi kalau bicara dalam konteks Jakarta sampai ke pinggiran kota pun sudah padat penduduknya.
Sehingga anak hanya berkeluyuran di jalan, iseng satu sama lain dan kemudian muncul ide untuk melakukan tindak kriminal. Itu yang mengkhawatirkan,” tuturnya. (inda)
Jangan Melulu Bermain Game
Seputar Indonesia
Sunday, 02 August 2009
BERJAM-JAM main PlayStation (PS) dan aneka game komputer di rumah menjadi kebiasaan anak zaman sekarang.Padahal,bermain petualangan di luar rumah jauh lebih bermanfaat dan menyenangkan.
Anak akan tumbuh optimal jika orangtuanya mampu memenuhi berbagai kebutuhan si anak secara seimbang.Tak melulu materi, perkembangan fisik dan psikis juga perlu diperhatikan.Bermain merupakan salah satu kebutuhan bagi anak.Untuk pertumbuhan si kecil, biasanya orangtua memberikan makanan yang bergizi dan bervariasi. Demikian halnya bermain, orangtua haruslah cermat memilih permainan yang bervariasi dan ”bergizi”bagi buah hatinya.
”Bermain itu harus seimbang,” kata psikolog anak UI Jakarta,Dra Mayke S Tedjasaputra MSi. Artinya, berikan permainan yang bisa memancing aspek fisik, sosial,dan kognitif. ”Usahakan ketiga aspek tersebut terpenuhi sehingga perkembangan anak menjadi maksimal,” tutur play therapist yang akrab disapa Mayke itu. Untuk mengasah fungsi kognitif, anak bisa diberikan permainan game di komputer, catur, scrable, merakit, dan lego.
Atau bisa juga melalui aktivitas yang memacu kreativitas dan imajinasi anak seperti melukis, menggambar, dan mematung. Untuk tujuan bersosialisasi, ajaklah anak bermain berkelompok seperti ular tangga dan domino selama 5-15 menit. Jika anak suka bermain peran, orangtua bisa ikut terlibat dalam permainan. ”Interaksi dengan keluarga juga penting karena anak akan merasa dipenuhi kebutuhannya.
Orangtua jangan hanya menyuruh atau menuntut anak belajar dan les saja,luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama-sama,” saran dia. Sementara itu, aspek fisik bisa dilatih melalui olahraga yang melibatkan keterampilan dan motorik kasar seperti basket dan sepak bola. Dalam sepak bola, anak dilatih menggiring bola ke arah gawang dengan sasaran tepat, strategi mengecoh lawan, dan bekerja sama dengan teman satu tim.Balapan dengan gokart juga membutuhkan strategi dan mental yang kuat.
Jadi saat terkejar oleh lawan bukannya patah semangat,melainkan memacu diri dan mencari cara agar bisa mengalahkan lawannya. Sayangnya, saat ini ada kecenderungan orangtua, terutama di perkotaan, lebih menyukai anakanaknya bermain di dalam ruangan seperti menonton dan bermain komputer. Alasannya lebih aman dan terjaga, misalkan dari risiko penculikan. Padahal, di balik itu ada bahaya yang mengancam,yaitu anak cenderung menjadi individualistik dan kurang memiliki kesempatan menyeimbangkan ketiga aspek tadi.
Namun, orangtua mungkin tidak bisa sepenuhnya melarang anak bermain PS dan game komputer karena saat ini memang eranya teknologi.Hal yang terpenting sejak pertama kali anak mengenal permainan modern itu, orangtua harus tegas dan disiplin. Jangan sampai seluruh perhatian anak tercurah ke jenis mainannya itu. ”Selain itu, sejauh diimbangi dengan kegiatan bermain di luar ruangan dan yang menghasilkan suatu karya tertentu,seperti merakit yang memacu kreativitas,maka tidak masalah,”kata Mayke.
Setidaknya sekali dalam seminggu, Mayke menyarankan orangtua untuk mengajak anaknya bermain di luar, seperti berenang, bermain di taman, bermain bola atau kasti di lapangan,atau bisa juga memasang ring basket di halaman rumah. Alternatif lainnya adalah permainan yang berbau petualangan (adventure game), baik yang langsung dilakukan di alam terbuka maupun di arena petualangan buatan.Adventure game bisa melatih dan mengasah kemampuan berpikir anak serta mengeksplorasi rasa ingin tahunya.
Pengalaman anak pun akan semakin kaya karena mereka tak hanya merasakan pengalaman nyata yang menyenangkan.Namun, imajinasi dan kemampuan berpikir yang terus dipacu sehingga bisa berkembang pesat. Salah satu jenis permainan petualangan yang populer adalah meluncur dengan tali (flying fox).Permainan yang sangat menantang dan memacu adrenalin ini bisa melatih kepercayaan diri anak.
Dalam permainan ini,strategi mungkin kurang diperlukan, tapi kepercayaan diri anak bahwa dia mampu melakukannya adalah hal yang penting. ”Bagi anak yang takut ketinggian mungkin agak sulit, jadi dia harus belajar bagaimana menghadapi rasa takut saat meluncur.
Dan kalau ‘ternyata aku bisa melakukannya’ ini yang penting, apalagi bagi anak-anak usia SD itu bisa menjadi semacam harga diri yang dibangun atas dasar kemampuannya. Kalau dia tidak punya skill, maka dia akan merasa tersisih dari anak-anak lainnya,”papar Mayke. (inda s)
Sunday, 02 August 2009
BERJAM-JAM main PlayStation (PS) dan aneka game komputer di rumah menjadi kebiasaan anak zaman sekarang.Padahal,bermain petualangan di luar rumah jauh lebih bermanfaat dan menyenangkan.
Anak akan tumbuh optimal jika orangtuanya mampu memenuhi berbagai kebutuhan si anak secara seimbang.Tak melulu materi, perkembangan fisik dan psikis juga perlu diperhatikan.Bermain merupakan salah satu kebutuhan bagi anak.Untuk pertumbuhan si kecil, biasanya orangtua memberikan makanan yang bergizi dan bervariasi. Demikian halnya bermain, orangtua haruslah cermat memilih permainan yang bervariasi dan ”bergizi”bagi buah hatinya.
”Bermain itu harus seimbang,” kata psikolog anak UI Jakarta,Dra Mayke S Tedjasaputra MSi. Artinya, berikan permainan yang bisa memancing aspek fisik, sosial,dan kognitif. ”Usahakan ketiga aspek tersebut terpenuhi sehingga perkembangan anak menjadi maksimal,” tutur play therapist yang akrab disapa Mayke itu. Untuk mengasah fungsi kognitif, anak bisa diberikan permainan game di komputer, catur, scrable, merakit, dan lego.
Atau bisa juga melalui aktivitas yang memacu kreativitas dan imajinasi anak seperti melukis, menggambar, dan mematung. Untuk tujuan bersosialisasi, ajaklah anak bermain berkelompok seperti ular tangga dan domino selama 5-15 menit. Jika anak suka bermain peran, orangtua bisa ikut terlibat dalam permainan. ”Interaksi dengan keluarga juga penting karena anak akan merasa dipenuhi kebutuhannya.
Orangtua jangan hanya menyuruh atau menuntut anak belajar dan les saja,luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama-sama,” saran dia. Sementara itu, aspek fisik bisa dilatih melalui olahraga yang melibatkan keterampilan dan motorik kasar seperti basket dan sepak bola. Dalam sepak bola, anak dilatih menggiring bola ke arah gawang dengan sasaran tepat, strategi mengecoh lawan, dan bekerja sama dengan teman satu tim.Balapan dengan gokart juga membutuhkan strategi dan mental yang kuat.
Jadi saat terkejar oleh lawan bukannya patah semangat,melainkan memacu diri dan mencari cara agar bisa mengalahkan lawannya. Sayangnya, saat ini ada kecenderungan orangtua, terutama di perkotaan, lebih menyukai anakanaknya bermain di dalam ruangan seperti menonton dan bermain komputer. Alasannya lebih aman dan terjaga, misalkan dari risiko penculikan. Padahal, di balik itu ada bahaya yang mengancam,yaitu anak cenderung menjadi individualistik dan kurang memiliki kesempatan menyeimbangkan ketiga aspek tadi.
Namun, orangtua mungkin tidak bisa sepenuhnya melarang anak bermain PS dan game komputer karena saat ini memang eranya teknologi.Hal yang terpenting sejak pertama kali anak mengenal permainan modern itu, orangtua harus tegas dan disiplin. Jangan sampai seluruh perhatian anak tercurah ke jenis mainannya itu. ”Selain itu, sejauh diimbangi dengan kegiatan bermain di luar ruangan dan yang menghasilkan suatu karya tertentu,seperti merakit yang memacu kreativitas,maka tidak masalah,”kata Mayke.
Setidaknya sekali dalam seminggu, Mayke menyarankan orangtua untuk mengajak anaknya bermain di luar, seperti berenang, bermain di taman, bermain bola atau kasti di lapangan,atau bisa juga memasang ring basket di halaman rumah. Alternatif lainnya adalah permainan yang berbau petualangan (adventure game), baik yang langsung dilakukan di alam terbuka maupun di arena petualangan buatan.Adventure game bisa melatih dan mengasah kemampuan berpikir anak serta mengeksplorasi rasa ingin tahunya.
Pengalaman anak pun akan semakin kaya karena mereka tak hanya merasakan pengalaman nyata yang menyenangkan.Namun, imajinasi dan kemampuan berpikir yang terus dipacu sehingga bisa berkembang pesat. Salah satu jenis permainan petualangan yang populer adalah meluncur dengan tali (flying fox).Permainan yang sangat menantang dan memacu adrenalin ini bisa melatih kepercayaan diri anak.
Dalam permainan ini,strategi mungkin kurang diperlukan, tapi kepercayaan diri anak bahwa dia mampu melakukannya adalah hal yang penting. ”Bagi anak yang takut ketinggian mungkin agak sulit, jadi dia harus belajar bagaimana menghadapi rasa takut saat meluncur.
Dan kalau ‘ternyata aku bisa melakukannya’ ini yang penting, apalagi bagi anak-anak usia SD itu bisa menjadi semacam harga diri yang dibangun atas dasar kemampuannya. Kalau dia tidak punya skill, maka dia akan merasa tersisih dari anak-anak lainnya,”papar Mayke. (inda s)
Manajemen Laktasi yang Baik
Seputar Indonesia
Sunday, 02 August 2009
MANAJEMENlaktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya.
Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap,yakni pada masa kehamilan (antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun (postnatal). Bagaimana mengelola ketiga periode penting ini dengan baik? Berikut langkah-langkah yang dikemukakan Spesialis Kebidanan Dr Harini Susiana SpOG:
Periode Antenatal:
1. Meyakinkan diri sendiri akan keberhasilan menyusui dan bahwa ASI adalah amanah Ilahi. 2. Makan dengan teratur, penuh gizi dan seimbang. 3. Mengikutibimbinganpersiapan menyusui yang terdapat di setiap klinik laktasi di rumah sakit. 4. Melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara teratur. 5. Menjaga kebersihan diri, kesehatan, dan cukup istirahat. 6. Mengikuti senam hamil.
Periode Perinatal:
1. Bersihkan puting susu sebelum anak lahir. 2. Susuilah bayi sesegera mungkin, jangan lebih dari 30 menit pertama setelah lahir (inisiasi dini). 3. Lakukan rawat gabung, yakni bayi selalu di samping ibu selama 24 jam penuh setiap hari. 4. Jangan berikan makanan atau minuman selain ASI. 5. Bila dalam 2 hari pertama ASI belum keluar, berikan bayi air putih masak dengan menggunakan sendok. 6. Jangan memberikan dot maupun kempengan karena bayi akan susah menyusui, di samping mengganggu pertumbuhan gigi. 7.
Susuilah bayi kapan saja dia membutuhkan, jangan dijadwal. Susuilah juga bila payudara ibu terasa penuh.Ingatlah bahwa makin sering menyusui, makin lancar produksi dan pengeluaran ASI. 8. Setiap kali menyusui,gunakanlah kedua payudara secara bergantian. Yakinkan bahwa payudara telah kosong atau bayi tidak lagi mau mengisap. 9. Mintalah petunjuk kepada petugas rawat gabung, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar.
Periode Postnatal:
1. Berikan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan atau penyusuan eksklusif dan teruskan pemberian ASI sampai bayi berumur 2 tahun. 2. Berikan makanan pendamping ASI saat bayi mulai berumur 6 bulan.(inda susanti)
Sunday, 02 August 2009
MANAJEMENlaktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya.
Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap,yakni pada masa kehamilan (antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun (postnatal). Bagaimana mengelola ketiga periode penting ini dengan baik? Berikut langkah-langkah yang dikemukakan Spesialis Kebidanan Dr Harini Susiana SpOG:
Periode Antenatal:
1. Meyakinkan diri sendiri akan keberhasilan menyusui dan bahwa ASI adalah amanah Ilahi. 2. Makan dengan teratur, penuh gizi dan seimbang. 3. Mengikutibimbinganpersiapan menyusui yang terdapat di setiap klinik laktasi di rumah sakit. 4. Melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara teratur. 5. Menjaga kebersihan diri, kesehatan, dan cukup istirahat. 6. Mengikuti senam hamil.
Periode Perinatal:
1. Bersihkan puting susu sebelum anak lahir. 2. Susuilah bayi sesegera mungkin, jangan lebih dari 30 menit pertama setelah lahir (inisiasi dini). 3. Lakukan rawat gabung, yakni bayi selalu di samping ibu selama 24 jam penuh setiap hari. 4. Jangan berikan makanan atau minuman selain ASI. 5. Bila dalam 2 hari pertama ASI belum keluar, berikan bayi air putih masak dengan menggunakan sendok. 6. Jangan memberikan dot maupun kempengan karena bayi akan susah menyusui, di samping mengganggu pertumbuhan gigi. 7.
Susuilah bayi kapan saja dia membutuhkan, jangan dijadwal. Susuilah juga bila payudara ibu terasa penuh.Ingatlah bahwa makin sering menyusui, makin lancar produksi dan pengeluaran ASI. 8. Setiap kali menyusui,gunakanlah kedua payudara secara bergantian. Yakinkan bahwa payudara telah kosong atau bayi tidak lagi mau mengisap. 9. Mintalah petunjuk kepada petugas rawat gabung, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar.
Periode Postnatal:
1. Berikan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan atau penyusuan eksklusif dan teruskan pemberian ASI sampai bayi berumur 2 tahun. 2. Berikan makanan pendamping ASI saat bayi mulai berumur 6 bulan.(inda susanti)
Ibu Indonesia Teruslah Menyusui
Seputar Indonesia
Sunday, 02 August 2009
MENYUSUIbayi dengan ASI dapat mencegah kematian 1,3 juta bayi setiap tahun.Selain kekebalan tubuh bayi lebih baik,ibu pun berisiko lebih rendah terkena kanker payudara.
Pekan ini, tepatnya 1-7 Agustus mendatang,masyarakat di seluruh dunia menggemakan Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week). Ini merupakan upaya global untuk terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menyusui bayi dengan ASI (air susu ibu) hingga 6 bulan. Hingga kini di seluruh dunia hanya terdapat kurang dari 40% ibu yang menyusui bayinya hingga 6 bulan sesuai anjuran WHO.
Banyak di antara para ibu yang menyerah dan patah arang karena tidak tahu bagaimana cara menyusui yang baik, misalnya cara perlekatan yang tepat.Ada pula yang beralasan sakit atau tidak nyaman saat menyusui. Sungguh ironis karena hal-hal demikian sesungguhnya tidak perlu terjadi jika saja para ibu mau bertanya atau mencari informasi tentang manajemen menyusui (laktasi) yang baik.Padahal menurut WHO, mengajari para ibu baru tentang cara menyusui dapat menyelamatkan 1,3 juta anak dari kematian setiap tahun.
”Meningkatkan hingga 90% angka menyusui global untuk bayi hingga usia 6 bulan dapat menyelamatkan sekitar 13% dari 10 juta kematian balita setiap tahunnya,”kata staf ahli WHO,Constanza Vallenas. Vallenas berpandangan, kurangnya jumlah praktisi menyusui menjadi salah satu kendala,baik di negara maju maupun negara-negara miskin. Untuk itu, ia mengharapkan adanya lebih banyak petugas di rumah sakit, klinis maupun komunitas yang membantu memberikan penyuluhan bagi para ibu ataupun calon ibu baru tersebut.
Sementara itu, dalam pernyataan terkait Pekan Menyusui Dunia 1-7 Agustus, Dirjen WHO Margaret Chan juga menekankan pentingnya memberikan dukungan bagi para ibu di daerah bencana untuk memulai kembali menyusui bayinya.Acapkali saat terjadi bencana dan setelahnya, aktivitas menyusui tergantikan dengan banyaknya bantuan yang datang, salah satunya susu formula.
Hal ini tidak boleh terus berlanjut karena menghentikan pemberian ASI dapat membuat bayi lebih berisiko terkena penyakit.”Fokusnya tetap aktif melindungi dan mendukung kegiatan menyusui,”sebut Chan. Sejak 2004, berdasarkan 3.000 lebih penelitian,WHO menyarankan pemberian ASI eksklusif pada satu jam pertama setelah lahir dan meneruskannya hingga 6 bulan. ASI adalah fondasi imunitas bagi bayi.Bahkan,kolostrum yang dihasilkan beberapa hari menjelang kelahiran hingga 4-5 hari pasca-melahirkan, kaya akan protein dan mineral untuk membantu merangsang kekebalan tubuh bayi.
Dengan daya tahan tubuh kuat, anak terhindar dari berbagai penyakit seperti diare dan radang paru (pneumonia). Manfaat yang sama tidak akan didapat jika ibu hanya memberi bayi susu formula. Sayangnya, banyak para ibu yang masih ragu dan bertanya-tanya bagaimana bayi dapat tumbuh dan berkembang optimal hanya dengan minum ASI selama 6 bulan. Padahal, selain memasok nutrisi dan mengoptimalkan kekebalan tubuh bayi, ASI juga paling aman bagi sistem pencernaan bayi yang masih sensitif.
Spesialis anak dan konsultan laktasi, Prof Dr Hj Rulina Suradi SpA(K) IBCLC, menjelaskan, saluran cerna merupakan salah satu organ terpenting dalam pertumbuhan. Sekitar 80% sel pada saluran cerna menghasilkan antibodi dan 40% jaringan cerna disusun oleh jaringan limfoid yang disebut Gut AssociatedTyphoidTissue (GALT).
”Kedua komponen ini sangat berperan bagi imunitas tubuh manusia. Di lain pihak, saluran cerna merupakan organ yang kerap terpapar lingkungan luar dengan masuknya makanan maupun mikroorganisme,” ujarnya. Secara fisiologis,janin aman dan steril dari mikroorganisme selama dalam kandungan.Namun,beberapa jam setelah dilahirkan,bayi bisa terpapar kuman.Untuk menangkalnya, bayi sebaiknya diberi kolostrum (disusui) segera setelah lahir. Ini penting karena kolostrum akan menutup reseptor yang ada dalam saluran pencernaan.
”Bayi yang mendapat ASI eksklusif saluran cernanya didominasi bifidobacteri, sejenis bakteri ‘baik’. Hal ini tidak terlihat pada bayi yang diberi susu formula,”ungkapnya. Sementara itu, banyak penduduk Amerika yang salah beranggapan bahwa susu formula itu sama baiknya dengan ASI. Kondisi ini diperburuk dengan adanya sejumlah ibu yang enggan atau malu memberi ASI kepada anaknya saat berada di tempat umum.
”Temuan ini membuktikan bahwa diperlukan pemahaman dan penanaman kesadaran kepada masyarakat luas tentang pemberian ASI sebagai makanan terbaik untuk perkembangan bayi,” ujar Dr Rowe Li dari the Centers for Disease Control and Prevention (CDCP) Amerika. Li yang juga seorang peneliti menekankan bahwa banyak manfaat yang diperoleh dari pemberian ASI. (inda susanti/rtr)
Langganan:
Postingan (Atom)