Mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, Semoga Senantiasa diberikan Kesabaran dan Keteguhan Hati

Jangan Lupa Waktu yaa...

Rabu, 26 Agustus 2009

Ajari Anak Berpuasa Tanpa Memaksa

Seputar Indonesia.com, Minggu 23 AAgustus 2009

Pada bulan Ramadan ini,ada baiknya Anda mulai mengajari si kecil untuk berpuasa.Sejak kapan si kecil seharusnya mulai belajar puasa dan bagaimana cara mengajarinya? Andhika Romadhona,7 tahun, terlihat cemas sambil memegangi perutnya saat hari pertama puasa.

Anak lelaki yang akrab disapa Dika ini mengaku lapar bukan kepalang saat itu.Padahal waktu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi. Dika sudah mengeluh kepada bundanya. Tak tega melihat buah hatinya, sang bunda pun memperbolehkan Dika untuk buka, tetapi Dika menolak dengan alasan malu dengan temannya.

”Nanti kalau aku ketahuan Farhan gimana? Aku kan malu kalau ketahuan buka, pasti diledekin teman- teman,” tutur bocah kelas 2 SD ini. Sang bunda, Tuti Aliyah, mengatakan justru sangat senang sang anak sudah mau menjalankan puasa sejak dini.Tetapi jika sudah sakit dan ternyata dipaksakannya, itulah yang membuatnya khawatir.

Berbeda halnya dengan Taufilutfi, atau yang akrab disapa Luttfi, 6 tahun.Ia dengan percaya diri mengatakan jika sudah lapar, tanpa ragu ia pun makan dan minum,kemudian melanjutkan puasanya. ”Ya wajarlah mah, namanya juga lagi latihan, nanti juga kalau aku sudah besar,aku bakal puasa seharian penuh kok,”jelasnya saat ditanya sang mama mengapa Lutfi melakukan puasa yang seperti itu.

Memang bagi si kecil mengajari puasa bukan hal yang gampang.Tapi tentu saja Anda tak boleh menyerah. Melatih anak puasa sebenarnya bisa dilakukan sejak usia balita. Memang sebagai langkah awal,si kecil tak harus puasa sehari penuh.Anak bisa memulai puasa dengan puasa tengah hari.Anak juga harus diberi pemahaman soal puasa itu sendiri.

Selain menambah pendidikannya mengenai agama, anak juga diajarkan untuk hidup sehat. Mendidik anak untuk mendapatkan pengajaran tentang agama memang wajib dilakukan. Di saat anak belum mendapatkan pendidikan sebelum memasuki masa sekolahnya. Nah di sinilah pentingnya peranan orangtua menanamkan kehidupan sosial, moral, termasuk penanaman nilai-nilai tentang agama.

Lantas bagaimana menanamkan nilai agama termasuk puasa pada si kecil? Psikolog Keluarga dari Kasandra & Associates,Kasandra Putranto M.Psi mengatakan bahwa menanamkan norma agama pada anak memang sebaiknya dilakukan sejak dini dan sebaiknya dilakukan dengan cara-cara menyenangkan tanpa ada paksaan.

”Untuk mengenalkan ajaran agama memang sebaiknya dilakukan dengan cara menyenangkan. Sama halnya pada saat mengajarkan puasa,” tuturnya saat dihubungi SI. Kasandra menuturkan, mengajarkan puasa pada anak dilakukan dengan cara perlahan.Dimulai dari mengenalkan bahwa puasa itu adalah hukumnya wajib bagi yang sudah akil balig.

Mengenalkan anak tentang puasa dan melatih anak untuk betul- betul mulai berpuasa itu memang beda.Sebelum anak mengerti betul tentang puasa, semisal pada umur balita sampai usia 7 tahun, bila Ramadan akan segera tiba, orangtua bisa mengenalkan serta melibatkan anak pada kegiatankegiatan pada bulan Ramadan.

Meski belum ikut berpuasa, tapi libatkan si kecil untuk ikut buka puasa bersama, tadarusan atau mengaji, salat tarawih juga sahur. Selain itu, bisa juga dilakukan dengan mendengarkan lagu-lagu tentang puasa, cerita Ramadan atau pengalaman masa kecil orangtua saat berpuasa.Dengan cara tersebut secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar puasa.

”Biarkan anak puasa sekuatnya, jangan dipaksakan. Atau orangtua bisa memberikan anjuran untuk melakukan puasa dengan bertahap,”ucap psikolog yang juga aktif mengajar di Universitas London School of Public Relations ini. Bertahap bisa dilakukan dengan puasa pada minggu pertama selama 4-5 jam.

Bila sudah kuat, tambah jam puasa menjadi 6 jam pada minggu ke-2.Kemudian menambahnya lagi menjadi 9 jam untuk minggu-minggu berikutnya. Atau melatih puasa pada anak bisa juga dilakukan dengan melihat dari umur anak. Semisal anak masih balita, jika anak memaksa untuk ikut puasa,3 jam pun cukup.

”Jika anak tetap dipaksakan, maka dikhawatirkan, yang ada anak menjadi tidak mau berpuasa,” tutur psikolog dari 2 anak ini. Disarankan bagi anak yang ingin berpuasa, saat sahur untuk meminum segelas teh manis dan jangan biarkan si kecil berpuasa tanpa sahur.

Dan agar kondisi tubuh anak tetap prima, sebaiknya pada malam hari anak tidur lebih awal. Didiklah anak melakukan puasa dengan rasa kasih sayang. Mendidik anak untuk berpuasa juga membantu anak mencapai kedewasaan, baik dari segi akal,ruhiyah dan fisik.

Dimulai dari kenal dan mengetahui sesuatu, kemudian anak mau dan bisa hingga akhirnya menjadi biasa memang tidak membutuhkan waktu yang sebentar.Selain waktu, juga harus diperhatikan dari kemauannya yang kuat,juga kesabaran, serta semakin awal mengajarkannya, maka semakin baik.

”Jangan pernah memaksa anak untuk melakukan kegiatan apa pun karena anak pun tidak akan melakukannya dengan sungguhsungguh. Biarkan mereka melakukan sesuai kemampuannya. Karena semakin anak besar,maka semakin tumbuh juga rasa tanggung jawab anak,” pesan psikolog yang berpraktik di kawasan Pela,Jakarta Selatan ini. (inggrid namirazswara)

Program School Meal untuk Anak Bangsa

Seputar Indonesia.com, Minggu 23 Agustus 2009

Menangani masalah gizi buruk bisa dilakukan dengan beragam cara. Misalnya edukasi mengenai gizi, juga pemenuhan gizi.

Dikatakan oleh pakar gizi klinik yang juga anggota dari PDGKI (Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia),Dr.Fiastuti Witjaksono MS, Sp.GK, bahwa untuk berprestasi di sekolah anak membutuhkan gizi seimbang. Gizi seimbang terdiri dari asupan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral yang berpengaruh terhadap pembentukan otak untuk dapat tumbuh kembang optimal dan menentukan tingkat kecerdasan.

“Usia sekolah adalah masa emas untuk menentukan kondisi anak kelak ketika dewasa,” papar Fiastuti pada acara bertajuk “Bekal Sehat Blue Band Bagi Anak Bangsa” yang diadakan oleh Blue Band dan World Food Programme (WFP) beberapa waktu lalu.Pemenuhan gizi seimbang,juga menjadi langkah untuk mengantisipasi terjadinya penambahan masalah gizi buruk di Indonesia.

Menurut data dari Departemen Kesehatan RI,pada 2009 Indonesia telah berhasil mengurangi tingkat malanutrisi nasional selama beberapa tahun terakhir dari 25% menjadi 18%.Tapi secara signifikan hal tersebut masih tetap lebih tinggi dari standar ideal World Bank yaitu di bawah 10%.

Kekurangan gizi masih menjadi isu nasional dan hingga saat ini masih banyak anak Indonesia yang menderita hal tersebut. Masalah ini serius mengingat jumlah anak yang kekurangan gizi pada suatu negara,secara tidak langsung juga akan memengaruhi perkembangan dan kemajuan bangsa tersebut di masa depan.

Masih merujuk pada data dari Departemen Kesehatan RI pada Desember 2008, 44% dari seluruh anak di bawah usia 5 tahun di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami malanutrisi kronis. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 47% anak mengalami malanutrisi kronis, yang di mana masih diklasifikasikan oleh WHO (World Health Organization) sebagai kondisi yang serius.

Berangkat dari kepedulian Blue Band dalam mengatasi masalah malanutrisi pada anak-anak sekolah dasar di Indonesia dan dengan keberhasilan WFP dalam Program School Meal,Blue Band telah memberikan bantuan donasi senilai 1 miliar rupiah selama tiga tahun berturut-turut sejak tahun 2007 hingga tahun 2009 ini. Bantuan ini difokuskan untuk disalurkan ke daerah NTT dan NTB.

Melalui Program School Meal, anak-anak diberikan biskuit yang telah difortifikasi untuk memenuhi kekurangan mikronutrien,serta meningkatkan kemampuan konsentrasi dan belajar. WFP juga mendukung pendidikan nutrisi dan kebersihan di dalam kelas.

Brand Manager Blue Band Agus Nugraha menyebutkan, Blue Band menyadari bahwa anak pada usia sekolah dasar membutuhkan asupan gizi seimbang karena memerlukan fungsi kerja otak maksimal untuk menyerap mata pelajaran dasar di sekolah, dan merupakan masa pertumbuhan fisik maksimal.

“Berdasarkan survei oleh WFP, Program School Meal yang telah dilakukan oleh WFP dan Blue Band di wilayah NTT dan NTB telah membuahkan hasil yang positif dalam hal kehadiran anak dan tingkat konsentrasi di sekolah,”ucapnya. Donor & Private Sector Relations Officer WFP Indonesia,Alan Brown, mengatakan bahwa harga makanan yang tinggi dan krisis finansial dipercaya oleh WFP sebagai penyebab sulitnya mendapatkan pangan yang mencukupi di daerah pedalaman seperti NTT dan NTB.

Oleh sebab itu, pada 2009 dan 2010 WFP akan memfokuskan perhatian dan bantuan pada kedua daerah ini di mana pangan dan malanutrisi masih menjadi masalah yang serius.Tujuan perkembangan milenium WFP juga sejalan dengan objektif pemerintah Indonesia yang telah menetapkan target untuk mengurangi tingkat malanutrisi, serta tingkat kematian ibu dan anak pada tahun 2010.

“Bantuan pihak swasta seperti Blue Band sangat kami hargai demi mencapai tujuan ini,” tandasnya. Fiastuti menambahkan, jika ingin anak tetap fit di sekolah, maka jangan pernah meninggalkan sarapan. Sebagai pengganti sarapan yang tertinggal atau menambah menu sarapannya,biskuit dari bantuan Program School Meal sangat berguna sekali untuk pemenuhan gizi seimbang mereka agar tetap fit dalam beraktivitas.(inggrid)

Jumat, 21 Agustus 2009

KPI Umumkan 5 Sinetron Bermasalah

Harian Kompas, Jum’at 21 Agustus 2009

Jakarta, Kompas Komisi Penyiaran Indonesia Pusat menemukan lima sinetron bermasalah yang ditayangkan sepanjang Juni 2009. KPI memberikan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggarannya terhadap Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran.
”Rapat Pleno KPI Pusat tanggal 28 Juli, setelah mendapat masukan dan pertimbangan dari tim panelis yang beranggotakan Arief Rachman, Dedy Nur Hidayat, Seto Mulyadi, Nina Armando, Bobby Guntarto, dan Razaini Taher, menyatakan, dari 28 program yang terdiri dari 666 episode yang diteliti, ditemukan lima sinetron yang bermasalah,” kata Koordinator Bidang Isi Siaran KPI Pusat Yazirwan Uyun, Kamis (20/8) di Jakarta.
Sinetron-sinetron bermasalah tersebut adalah 1001 Cerita yang ditayangkan TPI, Sakina, Kasih dan Asmara, Mualaf, serta ”FTV Drama” yang ditayangkan Indosiar.
Yazirwan Uyun menjelaskan, sinetron bermasalah tersebut umumnya menampilkan kekerasan fisik dan verbal, seperti menampar, memukul, menjambak, menendang, memaku, serta kata-kata kasar dan makian.
Menurut Yazirwan Uyun, masyarakat diharapkan bisa mengawasi dan berperan aktif memantau semua tayangan dan memberikan laporan kepada KPI melalui pesan pendek (SMS) ke nomor 081213070000 atau faksimile dan telepon ke nomor (021) 6340667 atau 6340713.
(NAL)

Makan Bersama Bikin Keluarga Lebih Harmonis

KOMPAS.com, Kamis 20 Agustus 2009

Keluarga inti merupakan sebuah lembaga kecil. Dari keluargalah segala norma, etiket, nilai-nilai, dan kepribadian seseorang terbentuk. Namun, ketika sebuah keluarga tidak lagi harmonis, hal-hal dan nilai baik sukar untuk diajarkan kepada anak-anak. Untuk itu, sebelum keluarga (sebagai tempat berbagi afeksi), nilai, dan sistem itu mulai rusak, usahakan untuk membentuk kembali kegiatan-kegiatan yang menyenangkan bersama. Salah satunya adalah dengan makan bersama. Ini merupakan kegiatan yang dulu merupakan budaya, namun terkikis oleh jaman dan dalih kesibukan, macet, banyak kerjaan, bahkan malas.
Data yang disajikan oleh Dr. Erna Karim M.Si, pengajar di Program Sarjana Sosiologi FISIP Universitas Indonesia, bahwa 5 tahun belakangan, angka perceraian umat Islam di kota–kota besar di Indonesia meningkat 3 kali lipat (hampir mencapai 300 persen). Yang terbesar terjadi di Surabaya (cerai talak sebanyak 17.728 perkara, cerai gugat 27.805 perkara), kedua di Bandung (cerai talak 13.415, cerai gugat 15.139); Semarang (cerai talak 12.694 perkara, cerai gugat 23.653 perkara); ketiga di Jakarta; dan keempat di Makasar. Data tahun 2005 –2006 ini berasal dari Dirjen Bimas Islam Dep. Agama RI.
Penyebab angka-angka perceraian di atas adalah ketidakharmonisan suami-istri, suami tidak bertanggungjawab, ekonomi, cemburu, kekerasan/penganiayaan, dan poligami. Hal ini sebenarnya bisa dicegah jika saja si orangtua dalam keluarga mendapat contoh bagaimana menjadi orangtua dari orangtua mereka sendiri. Karena ketika keluarga tidak harmonis, hal ini cenderung berulang kepada anak-anaknya.
Salah satu cara untuk menjembatani ketidakharmonisan keluarga adalah dengan makan bersama. Dr. Erna Karim, M.Si, pada peluncuran kampanye Royco Ayo Makan Bersama! mengatakan, “Kebiasaan makan bersama merupakan tradisi yang ada sejak dulu di masyarakat Indonesia. Namun, karena ada kendala struktural, seperti jam aktivitas keluarga yang tak sama, kepadatan lalu lintas, pengaruh teknologi, dan lainnya membawa implikasi kepada pergeseran nilai-nilai dan norma makan bersama."Padahal, makan bersama memiliki 3 fungsi, yakni mengenalkan variasi makanan pada anak, membentuk pola asuh anak, dan mengikat kebersamaan suatu keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil, terang Dr. Erna.
Dr. Rose Mini, M.Psi, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mengutip hasil penelitian Teri L Burgess-Champoux, School of Public Health di University of Minnesota, yang melibatkan 677 remaja, tahun 1998 -2004. Makan bersama secara rutin selama masa peralihan, dari awal sampai pertengahan masa remaja, secara positif berdampak pada perkembangan perilaku sehat bagi pemuda, begitu menurut hasil penelitian tersebut.
Menurut Dr. Rose Mini, “Makan bersama bukan sekadar mengenyangkan perut saja, tapi juga mengenyangkan jiwa (soul food), memunculkan emosi positif bagi keluarga karena ada interaksi antaranggota keluarga sehingga dapat menciptakan hubungan yang erat dan harmonis. Namun, yang perlu diingat, bahwa pada saat makan bersama, hendaknya anggota keluarga saling menyimak dan menunjukkan empati kepada lawan bicara dan bukan sekadar basa-basi, serta mendengarkan sambil lalu, agar tercipta sebuah dialog positif.”
Pada tahun 2008, Unilever mengadakan penelitian terhadap 6.000 responden di 12 negara untuk mengetahui budaya makan bersama keluarga. Di Indonesia, penelitian ini dilakukan di Jakarta dengan 500 responden dengan rentang usia 18-65 tahun dengan jumlah responden imbang laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan budaya makan bersama keluarga yang disebabkan oleh gaya hidup modern.
Cara untuk mengembalikan budaya makan bersama ini? Tentu kembali lagi dengan komitmen dan komunikasi di antara keluarga. Harus ada yang memulai untuk melakukan kegiatan ini. Setidaknya peran orangtua, misal ibu yang senantiasa mencipta suasana makan yang kondusif bersama keluarga. Lengkapi dengan hidangan lezat bergizi dan disukai anggota keluarga. Harus ada komitmen dari setiap anggota keluarga untuk sampai di rumah lebih awal dan meluangkan waktu agar dapat makan bersama beberapa kali tiap minggu, mengurangi bepergian dan makan di luar rumah, mengurangi aktivitas di depan televisi, komputer, video game, telepon genggam, dan alat komunikasi lain. Ini penting, agar mendapatkan interaksi tatap muka dan interaksi yang akrab. Keluarga yang makan bersama, lebih besar kemungkinannya untuk selalu terus bersama.


Makan Bersama Bikin Keluarga Lebih Harmonis

KOMPAS.com, Kamis 20 Agustus 2009

Keluarga inti merupakan sebuah lembaga kecil. Dari keluargalah segala norma, etiket, nilai-nilai, dan kepribadian seseorang terbentuk. Namun, ketika sebuah keluarga tidak lagi harmonis, hal-hal dan nilai baik sukar untuk diajarkan kepada anak-anak. Untuk itu, sebelum keluarga (sebagai tempat berbagi afeksi), nilai, dan sistem itu mulai rusak, usahakan untuk membentuk kembali kegiatan-kegiatan yang menyenangkan bersama. Salah satunya adalah dengan makan bersama. Ini merupakan kegiatan yang dulu merupakan budaya, namun terkikis oleh jaman dan dalih kesibukan, macet, banyak kerjaan, bahkan malas.
Data yang disajikan oleh Dr. Erna Karim M.Si, pengajar di Program Sarjana Sosiologi FISIP Universitas Indonesia, bahwa 5 tahun belakangan, angka perceraian umat Islam di kota–kota besar di Indonesia meningkat 3 kali lipat (hampir mencapai 300 persen). Yang terbesar terjadi di Surabaya (cerai talak sebanyak 17.728 perkara, cerai gugat 27.805 perkara), kedua di Bandung (cerai talak 13.415, cerai gugat 15.139); Semarang (cerai talak 12.694 perkara, cerai gugat 23.653 perkara); ketiga di Jakarta; dan keempat di Makasar. Data tahun 2005 –2006 ini berasal dari Dirjen Bimas Islam Dep. Agama RI.
Penyebab angka-angka perceraian di atas adalah ketidakharmonisan suami-istri, suami tidak bertanggungjawab, ekonomi, cemburu, kekerasan/penganiayaan, dan poligami. Hal ini sebenarnya bisa dicegah jika saja si orangtua dalam keluarga mendapat contoh bagaimana menjadi orangtua dari orangtua mereka sendiri. Karena ketika keluarga tidak harmonis, hal ini cenderung berulang kepada anak-anaknya.
Salah satu cara untuk menjembatani ketidakharmonisan keluarga adalah dengan makan bersama. Dr. Erna Karim, M.Si, pada peluncuran kampanye Royco Ayo Makan Bersama! mengatakan, “Kebiasaan makan bersama merupakan tradisi yang ada sejak dulu di masyarakat Indonesia. Namun, karena ada kendala struktural, seperti jam aktivitas keluarga yang tak sama, kepadatan lalu lintas, pengaruh teknologi, dan lainnya membawa implikasi kepada pergeseran nilai-nilai dan norma makan bersama."Padahal, makan bersama memiliki 3 fungsi, yakni mengenalkan variasi makanan pada anak, membentuk pola asuh anak, dan mengikat kebersamaan suatu keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil, terang Dr. Erna.
Dr. Rose Mini, M.Psi, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mengutip hasil penelitian Teri L Burgess-Champoux, School of Public Health di University of Minnesota, yang melibatkan 677 remaja, tahun 1998 -2004. Makan bersama secara rutin selama masa peralihan, dari awal sampai pertengahan masa remaja, secara positif berdampak pada perkembangan perilaku sehat bagi pemuda, begitu menurut hasil penelitian tersebut.
Menurut Dr. Rose Mini, “Makan bersama bukan sekadar mengenyangkan perut saja, tapi juga mengenyangkan jiwa (soul food), memunculkan emosi positif bagi keluarga karena ada interaksi antaranggota keluarga sehingga dapat menciptakan hubungan yang erat dan harmonis. Namun, yang perlu diingat, bahwa pada saat makan bersama, hendaknya anggota keluarga saling menyimak dan menunjukkan empati kepada lawan bicara dan bukan sekadar basa-basi, serta mendengarkan sambil lalu, agar tercipta sebuah dialog positif.”
Pada tahun 2008, Unilever mengadakan penelitian terhadap 6.000 responden di 12 negara untuk mengetahui budaya makan bersama keluarga. Di Indonesia, penelitian ini dilakukan di Jakarta dengan 500 responden dengan rentang usia 18-65 tahun dengan jumlah responden imbang laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan budaya makan bersama keluarga yang disebabkan oleh gaya hidup modern.
Cara untuk mengembalikan budaya makan bersama ini? Tentu kembali lagi dengan komitmen dan komunikasi di antara keluarga. Harus ada yang memulai untuk melakukan kegiatan ini. Setidaknya peran orangtua, misal ibu yang senantiasa mencipta suasana makan yang kondusif bersama keluarga. Lengkapi dengan hidangan lezat bergizi dan disukai anggota keluarga. Harus ada komitmen dari setiap anggota keluarga untuk sampai di rumah lebih awal dan meluangkan waktu agar dapat makan bersama beberapa kali tiap minggu, mengurangi bepergian dan makan di luar rumah, mengurangi aktivitas di depan televisi, komputer, video game, telepon genggam, dan alat komunikasi lain. Ini penting, agar mendapatkan interaksi tatap muka dan interaksi yang akrab. Keluarga yang makan bersama, lebih besar kemungkinannya untuk selalu terus bersama.


Makanan Penurun Kolesterol


Kompas.Com, Rabu 19 Agustus 2009
Gaya hidup merupakan salah satu faktor risiko penyebab kolesterol yang dapat diubah. Salah satu perubahan gaya hidup yang mudah dilakukan adalah dengan memilih konsumsi makanan yang tepat.

Ada beberapa jenis makanan yang efektif meningkatkan kolesterol baik (high-density lipoproteins/HDL). HDL berfungsi membuang kelebihan kolesterol dari sel dan dinding arteri serta membawa kolesterol kembali ke hati untuk dibuang. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran sejak dini untuk mulai memilih-milih makanan yang sehat dikonsumsi.

Kurangi Lemak jenuh
Salah satu pemicu peningkatan kolesterol adalah jumlah dan jenis lemak jenuh. Makanan yang berasal dari hewan, seperti susu, keju, daging, margarin, atau keju, biasanya mengandung lemak jenuh. Tapi ada juga bahan makanan dari tumbuhan yang mengandung lemak jenuh, misalnya minyak kelapa atau minyak sawit.
Kedelai
Food and Drug Administration AS merekomendasikan konsumsi protein kedelai minimal 25 gram setiap hari untuk mengurangi kolesterol. Ada banyak pilihan makanan berbasis kedelai yang tersedia di sekitar kita, mulai dari tahu, tempe, hingga susu kedelai.

Perbanyak serat
Penelitian menunjukkan, konsumsi kacang-kacangan setiap hari selama enam minggu bisa mengurangi kolesterol hingga 10 persen.

Serat yang mudah larut di air menghambat penyerapan kolesterol di usus sehingga membantu menurunkan jumlah kolesterol dalam darah. Serat yang mudah larut bisa kita temukan pada gandum, beras merah, kacang, apel, wortel, dan sebagian besar sayur dan buah-buahan.

Konsumsi ikan
Penelitian menunjukkan asam lemak omega-3 yang ditemukan pada ikan, terutama ikan laut seperti salmon bisa membantu menurunkan lemak jahat dan meningkatkan kadar lemak baik, serta menurunkan trigliserida. The American Heart Association merekomendasikan untuk mengonsumsi minimal dua porsi ikan dalam seminggu.

Alpukat
Buah alpukat merupakan sumber terbaik untuk lemak tak jenuh yang bisa membantu meningkatkan kadar kolesterol baik sekaligus menurunkan kolesterol jahat. Alpukat juga mengandung beta sitosterol yang bisa mengurangi penyerapan kolesterol dari makanan. Meski begitu, alpukat mengandung kalori tinggi, yakni 300 kalori dan 30 gram lemak. Karena itu konsumsi buah ini sebagai pengganti makanan tinggi lemak lainnya.

Bawang putih
Selama ratusan tahun bawang putih telah digunakan oleh berbagai budaya di dunia. Suku Mesir memasukkan bawang putih dalam diet mereka untuk menambah stamina.

Dalam dunia modern, para peneliti berhasil mengetahui manfaat bawang putih untuk menurunkan kolesterol, mencegah sumbatan pembuluh darah, mengurangi tekanan darah, dan membantu tubuh melawan infeksi. Penelitian terkini menyebutkan bumbu ini mencegah terjadinya plak di arteri pada stadium dini, atau disebut juga nano plak.

Bayam
Sayuran ini kaya akan lutein, pigmen berwarna kuning yang juga ditemukan pada sayuran berdaun hijau dan kuning telur. Reputasi lutein dalam menjaga penglihatan sudah terkenal. Penelitian terkini menunjukkan makanan yang kaya lutein juga melindungi kita dari serangan jantung dengan cara membentuk lapisan pelindung dinding arteri dari serangan kolesterol.

Teh
Teh, baik diminum dalam kondisi dingin atau panas, memiliki kandungan antioksidan, Flavonoids. Studi membuktikan teh juga menjaga pembuluh darah tetap rileks dan mencegah sumbatan. Flavonoids dalam teh juga menujukkan bisa mencegah oksidasi kolesterol jahat yang menyebabkan terbentuknya plak di dinding arteri. Antioksidan yang sangat kuat ini mungkin juga menurunkan kolesterol dan tekanan darah.

Cara mengolah
Yang tak kalah penting dalam menjaga kadar kolesterol tetap normal adalah pengolahan makanan. Meski makanan yang dipilih sudah berkolesterol rendah, kalau dimasak dengan minyak yang mengandung minyak jenuh, tetap saja makanan itu mengandung kolesterol tinggi.

Proses pengolahan makanan yang disarankan adalah dengan cara dikukus, bakar, atau rebus. Bila sudah terbiasa makanan yang digoreng, kurangi porsinya atau pilih cara masak dengan menumis yang memakai minyak dalam jumlah sedikit.

Saat Harus Kembali Bekerja

Kompas.com Rabu 19 Agustus 2009 | 19:41 WIB

Usai melahirkan dan menikmati masa menjadi ibu selama tiga bulan penuh, kini saatnya Anda harus kembali ke kantor. Ada perasaan tak rela harus meninggalkan si kecil, namun pekerjaan dan pergaulan di kantor juga terasa begitu menggoda. Namun, ketika akhirnya hari pertama masuk kerja itu datang, hati Anda begitu hancur. Anda tidak tega mendengarkan si kecil menangis begitu pilu, melihat sang ibu bersiap-siap meninggalkan dirinya. Saat itu mungkin Anda akan merasa begitu tidak bertanggung jawab, tidak mampu melakukan tugas sebagai ibu sepenuhnya.
Maka, Anda perlu dukungan orang lain untuk menggantikan tugas Anda sementara Anda tidak di rumah. Orang lain itu bisa suami, pengasuh, orangtua, mertua, atau bahkan tetangga. Mintalah nasihat mengenai bagaimana harus mengasuh anak saat Anda harus kembali bekerja. Diskusikan harapan-harapan Anda mengenai gaya hidup ibu bekerja, termasuk dengan atasan, dan apa yang mereka harapkan dari Anda. Diskusi ini akan memberikan bayangan pada Anda bagaimana harus menghadapi masa transisi antara tugas mengasuh anak dan bekerja di kantor. Penting untuk Anda ketahui, bahwa berkonsentrasi pada pekerjaan di kantor sama pentingnya dengan perhatian untuk si kecil.
Untuk memberi gambaran pada Anda, simak tips dari Ariane de Bonvoisin, penulis The First 30 Days dan pendiri first30days.com, website yang didedikasikan untuk membantu Anda menghadapi perubahan dalam hidup.
Bagaimana memaksimalkan waktu dengan bayi?
Selama ini kita selalu mengatakan, kualitas lebih penting dari kuantitas. Karena itu, saat Anda sedang di rumah, pastikan bahwa diri Anda benar-benar hadir untuk si kecil. Bagaimana caranya? Mudah saja: matikan televisi, singkirkan ponsel, dan terutama keharusan meng-update status di Facebook. Lakukan ini, hanya bila Anda memang peduli pada si kecil. Untuk memberikan waktu berkualitas pada si kecil, Anda bisa mengajaknya ngobrol, misalnya dengan bercerita mengenai apa saja yang Anda lakukan di kantor. Misalnya, "Hari ini Ibu ada rapat, lamaaa... sekali. Padahal Ibu sudah kangen sama kamu." Bertanyalah juga pada si kecil, apa yang dia lakukan hari ini (meskipun Anda harus menjawabnya sendiri). Meskipun bayi tidak bisa berbicara, yang penting adalah komunikasi dan kontak batin antara Anda dengannya. Berbagi cerita akan memungkinkan Anda untuk mengekspresikan emosi, dan membantu si bayi meluapkan emosinya juga.
Perasaan apa yang bisa diharapkan?
Anda mungkin akan merasa begitu lelah, bahkan mungkin depresi. Namun perasaan yang paling Anda rasakan mungkin adalah rasa bersalah karena meninggalkannya begitu lama di rumah. Atau justru karena Anda merasa lega dapat meninggalkan rumah menuju kantor? Itu pun wajar saja. Jika rasa bersalah ini muncul, ingatkan diri Anda mengapa Anda harus berangkat ke kantor, dan mengapa hal itu merupakan pertanda baik. Lalu, tetaplah berpegang pada pikiran tersebut. Rasa bersalah akan memudar bersama kesibukan yang Anda alami di kantor, dan Anda akan merasa lebih baik sesudahnya. Mungkin Anda akan merasa iri hati dengan teman yang suaminya begitu cekatan mengurus bayi. Namun tak ada gunanya membanding-bandingkan. Lebih baik Anda minta teman-teman yang lain berbagi tips merawat bayi.
Anda mungkin akan membutuhkan pengakuan, entah dari teman atau dari keluarga, bahwa Anda telah melakukan hal yang benar. Namun pengakuan tersebut seharusnya bukan karena Anda mampu menyeimbangkan karir dan pekerjaan di rumah, melainkan karena Anda telah mengusahakan yang terbaik untuk si kecil.
Lima cara sukses melewati masa transisi:
1. Sewa seorang pengasuh, entah pembantu rumah tangga atau baby sitter. Jika mereka datang untuk bernegosiasi dengan Anda, ajak si kecil bersama Anda, untuk mengetahui bagaimana interaksi mereka terhadap anak. Berlatihlah bersama-sama dengan pengasuh untuk menjalankan kegiatan rutin bersama anak.
2. Delegasikan tugas. Sebagai manajer rumah tangga, Anda wajib mendelegasikan tugas kepada suami maupun pengasuh untuk mengambil alih tanggung jawab atas si bayi ketika Anda sedang beraktivitas. Anda tak punya pengasuh, dan belum berani menyerahkan si kecil pada suami? Minta ia menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga yang lain, seperti mencuci pakaian atau menyapu dan mengepel lantai.
3. Menyesuaikan diri. Pastikan Anda tidak banyak menceritakan problem Anda bersama si kecil saat berada di kantor, atau simpan untuk sahabat terdekat Anda saja. Hal ini untuk memastikan bahwa perhatian Anda benar-benar tercurah ke pekerjaan, bukan kepada bayi di rumah.
4. Tetap berhubungan. Dalam minggu-minggu pertama, usahakan pengasuh pergi berlibur saat weekend sehingga Anda bisa menyediakan waktu berkualitas untuk si kecil. Sambil berusaha menyesuaikan diri dengan jadual kehidupan Anda yang baru, Anda bisa menemukan jalan keluar untuk membantu Anda menenangkan diri.
5. Nikmati peran baru Anda. Ini yang terpenting. Bila kehadiran bayi memang sudah lama Anda nantikan, pantaskah Anda berkeluh-kesah saat harus pontang-panting membagi perhatian antara pekerjaan, suami, dan si kecil? Anda bekerja untuk mencari uang bagi keperluan si kecil, maka bekerjalah dengan senang. Saat di rumah, ikuti semua perkembangan si kecil, dan jangan biarkan Anda melewatkan satu momen pun agar Anda bisa menjadi ibu yang seutuhnya